Pendahuluan

Pertama-tama selamat kepada Anda yang telah membuka situs kami. Melalui perhatian Anda, kita berharap kita dapat turut melestarikan dan mengembangkan budaya asli Indonesia.

Alat musik angklung sendiri menurut catatan sejarah telah dimainkan sejak lama di Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali dengan susunan nada lima nada (pentatonis). Angklung konon dulu dimaikan baik sebagai alat musik maupun untuk pesta rakyat. Namun demikian, semenjak tahun 1938, Bapak Angklung Daeng Soetigna telah menyusun kembali susunan angklung dalam nada diatonik (tujuh nada) kromatis, sehingga sejak saat itu angklung dapat memainkan musik naional maupun internasional. Dan dapat disesuaikan dengan selera dari para pemain sehingga bermain angklung dapat lebih menyenangkan selain membentuk karakter kelompok (building character) melalui: dispilin, gotong royong dan kerjasama, seperti tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 082 tahun 1968 tentang Musik Angklung sebagai alat musik pendidikan.


Perangkat Angklung

Perangkat musik angklung umumnya disebut dalam satuan unit dan set, perincian berdasarkan konvensi sebagai berikut:

satu unit unit besar (sebagai contoh) terdiri atas:


angklung melodi kecil nomor 0 s.d. 30 sebanyak 3 set.
angklung melodi besar nomor G s.d. f sebanyak 2 set.
angklung akompanyemen (akord) sejumlah 12 buah.
angklung ko-akompanyemen (akord) sejumlah 12 buah.

Cara Memainkan Angklung

Seperti pada umumnya, angklung dimainkan dengan cara digetarkan. Untuk menghasilkan bunyi yang baik, maka ada beberapa teknik yang dapat diterapkan sebagai berikut.


Cara Memegang Angklung

Angklung dapat dipegang dengan cara sebagai berikut (ini berlaku untuk yang normal, jika kidal maka diperlakukan sebaliknya):


Tangan kiri bertugas memegang angklung dan tangan kanan bertugas menggetarkan angklung.
Tangan kiri dapat memegang angklung dengan cara memegang simpul pertemuan dua tiang angklung vertikal dan horisontal (yang berada di tengah), sehingga angklung dipegang tepat di tengah-tengah. Hal ini dapat dilakukan baik dengan genggaman tangan dengan telapak tangan mengahdap ke atas atau pun ke bawah.
Posisi angklung yang dipegang sebaiknya tegak, sejajar dengan tubuh, dengan jarak angklung dari tubuh cukup jauh (siku tangan kiri hampir lurus), agar angklung dapat digetarkan dengan baik dan maksimal.
Tangan kanan selanjutnya memegang ujung tabung dasar angklung (horisontal) dan siap menggetarkan angklung.

Cara Memegang Lebih dari Satu Angklung

Untuk pemain yang memegang lebih dari satu angklung, dapat dilakukan cara memegang angklung sebagai berikut:

Angklung yang ukurannya lebih besar dipegang tangan kiri pada posisi yang lebih dekat ke tubuh, baik dengan cara dimasukkan ke dalam lengan (jika angklung melodi besar atau yang masuk ke dalam lengan pemain) di posisi lengan bawah, atau dimasukkan ke dalam jari tangan kiri sehingga angklung sisanya dapat dipegang juga oleh jari tangan kiri lainnya dan masing-masing angklung dapat dimainkan dengan sempurna dan baik.


Cara Membunyikan Angklung


Angklung digetarkan oleh tangan kanan, dengan getaran ke kiri dan ke kanan, dengan posisi angklung tetap tegak (horisontal), tidak miring agar suara angklung angklung rata dan nyaring.
Sewaktu angklung digetarkan, sebaiknya dilakukan dengan frekuensi getaran yang cukup sering, sehingga suara angklung lebih halus dan rata.
Meskipun memainkan angklung bisa sambil duduk, tetapi disarankan pemain memainkan angklung sambil berdiri agar hasil permainan lebih baik.
Disarankan juga pada saat memulai latihan, dapat dimulai dengan latihan pemanasan, yaitu membunyikan angklung bersama-sama dengan melatih nada-nada pendek dan panjang secara bersama selama tiga sampai lima menit setiap latihan.

Beberapa Cara Memainkan Angklung

Sekurang-kurangnya terdapat dua cara yang paling umum tentang memainkan alat musik angklung, yaitu dengan digatarkan dan dipukul (dibunyikan putus-putus atau centok). Berikut disampaikan bberapa teknik yang dapat dipergunakan untuk bermain angklung dengan baik.


Menggetarkan Angklung

Angklung dibunyikan dengan digetarkan secara panjang sesuai nilai nada yang dimainkan.


Membunyikan Putus-putus, Dipukul (Centok)

Angklung tidak digtarkan, melainkan dipukul ujung tabung dasar (horisontal)-nya oleh telapak tangan kanan untuk menghasilkan centok (seperti suara pukulan). Hal ini berguna untuk memainkan nada-nada pendek seperti tanda musik pizzicato.


Tengkep

Angklung dibunyikan dengan digetarkan secara panjang sesuai nilai nada yang dimainkan, tetapi tidak seperti biasanya tabung kecilnya ditutup oleh salah satu jari tangan kiri sehingga tidak berbunyi (yang berbunyi hanya tabung yng besar saja). Hal ini dimaksudkan supaya dapat dihasilkan nada yang lebih halus sesui keperluan musik yang akan dimainkan (misalkan untuk tanda dinamika piano).


Nyambung

Seperti disampaikan oleh guru angklung diatonis Bapak Daeng Soetigna, maka dianjurkan untuk membunyikan nada angklung secara nyambung. Hal ini dilkukan dengan teknik sebagai berikut: bila ada dua nada yang dimainkan secara berturutan, maka agar terdengar nyambung maka nada yang dibunyikan pertama dibunyikan sedikit lebih panjang dari nilai nadanya, sehingga saat nada kedua mulai dimainkan, nada pertama masih berbunyi sedikit, sehingga alunan nadanya terdengar nyambung dan tidak putus.


Dinamika (keras dan pelan)

Sesuai kebutuhan lagu, angklung dapat dimainkan pelan (piano) atas keras (forte). Disarankan untuk kedua jenis dinamika ini sebaiknya frekuensi getaran angklung per detik tetap sama jumlahnya, sedangkan yang berbeda adalah jarak ayunan angklung oleh tangan kanan yang selanjutnya akan menentukan amplituda getaran dan menyebabkan keras atau pelannya lnada yang dimainkan.


Cara Memainkan Angklung Melodi dan Akompanyemen

Cara bermain angklung di atas ditujukan untuk angklung melodi. Selain angklung melodi, terdapat angklung akompanyemen yang terdiri atas nada akor. Angklung ini dimainkan sesuai akor lagu, dan dapat dimainkan dengan dua cara, yaitu digetarkan dan ditengkep.

Untuk teknik memainkan angklung akompanyemen dengan metoda centok (pukul), dapat dilakukan bersama dengn alat musik bass (bisa bass petik seperti cello/biola dengan ukuran besar) atau bass pukul (dari tabung angklung berukuran sangat besar). Teknik memainkannya mengikuti pola ritmik lagu seperti misalnya poila waltz ( 0 X X) atau mars ( 0X 0X 0X 0X), dengan keterangan 0 untuk memainkan bass dan X untuk memainkan angklung akompanyemen.

Sebagai catatan tambahan, umumnya angklung akompanyemen mayor terdiri atas empat tabung dengan menyertakan nada septime (7)-nya, sehingga jika dibutuhkn untuk memainkan akor mayor murni maka nada septimenya sebaiknya tidak dimainkan (ditengkep) sesuai keperluan lagu.

Angklung ko-akompanyemen adalah angklung akompanymen dengan susunan nada lebih tinggi satu oktaf. Biasanya angklung ini dimainkan bersahutan akompanyemen atau bersamaan dengan angklung akompanyemen, atau dimainkan secara khusus untuk jenis musik tertentu seperti keroncong.


Written by BUDI SUPARDIMAN AWI 
0
Angklung menurut mitologi Bali berasal dari kata  "Angk" adalah angka  (=  nada ) dan Lung artinya patah/ hilang . Angklung dapat juga dikatakan nada / laras yang tidak lengkap  sesuai dengan istilah Cumang Kirang ( Bahasa Bali ) yang artinya nada kurang / surupan 4 nada .
    Terciptanya alat musik angklung yang terbuat dari bambu berasal dari pandangan kehidupan masyarakat Sunda yang agraris dengan kehidupan yang bersumber pada makanan pokok berupa padi ( pare ) ini dilahirkan dari mitos pada Nyi Sri  Pohaci sebagai Dewi Sri pemberi kehidupan ( hirup hurip )  perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengelola Pertanian (tetaten) terutama pertanian sawah dan ladang ( huma ) telah melahirkan syair lagu sebagai penghormatan dan persembahan kepada Nyi Sri Pohaci dan sebagai tolak bala agar bercocok tanam mereka tidak mendatangkan malapetaka .
    Dalam perkembangannya lagu-lagu tersebut di iringi dengan bunyi tetabuhan yang terbuat dari batang-batang bambu yang dibuat sederhana  yang kemudian kita kenal dengan nama angklung dan calung
    Dibeberapa Kecamatan Kab Bandung seperti Kecamatan Soreang dan Kecamatan Pangalengan jenis kesenian ini dipergunakan untuk arak-arakan upacara adat Nyungkruk Hulu Wotan  ( menyelusuri hulu sungai ) dimana masyarakat membawa angklung dan dog-dog pergi ke hulu sungai membawa makanan seperti nasi tumpeng, lauk pauk serta membawa sesajen untuk upacara tersebut . Setelah sampai ke hulu sungai diadakan upacara lengkap dengan sesajen dan dupa dan berdoa kepada nenek moyangnya sambil menyembelih kambing hitam sebagai tumbal dan kepala kambing dikubur bersama sesajen dengan dipimpin oleh sesepuh kampung setelah makan bersama maka pulang sambil membunyikan angklung.

  
Angklung yang ada di Kabupaten Bandung terdiri dari 9 yaitu

  1. Singgul
  2. Jongjorang
  3. Ambrug
  4. Ambrug Penerus
  5. Pancer
  6. Pancer Penerus
  7. Engklong
  8. Roel

Jenis Angklung yang ada di Jawa Barat  adalah sebagai berikut 

  1. Angklung Baduy
  2. Angklung Dogdog Lojor
  3. Angklung Gubrag
  4. Angklung Badeng
  5. Angklung Buncis
  6. Angklung Bungko
  7. Angklung Soetigna



0
Membaca judul di atas anda mungkin bertanya-tanya, apa hubungan antara angklung dengan pendidikan dan persahabatan? Bagaimana sebuah alat musik tradisional dari bambu dapat melatih kepekaan bermusik dan pada saat yang sama juga mengajarkan pentingnya kerjasama dan mempererat persahabatan? Mari kita simak dalam tulisan ini.

Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu. Sebuah angklung terdiri beberapa tabung bambu (tergantung fungsinya) yang berbeda ketinggian dan diameternya untuk mencapai harmoni nada yang diinginkan.

Sebuah angklung melodi biasanya terdiri dari dua tabung yang menghasilkan nada terpaut satu oktaf,sementaraangklung pengiring (accompagnement)terdiri daritiga atau bahkan empat tabung tergantung accord yang dimainkan.
Tabung-tabung tersebut kemudian diikatkan pada rangka batang bambu untuk membentuk alat musik angklung yang lengkap. 

Sebuah angklung hanya menghasilkan satu nada, jadi untuk memainkan sebuah lagu dibutuhkan beberapa set angklung yang dimainkan oleh banyak orang. Kurang lebih seperti kelompok paduan suara dalam membawakan sebuah lagu. Untuk memainkannya, kita cukup menggoyangkan atau menggetarkannya.

Sejarah
Angklung dipercayai berasal dari pulau Jawa, khususnya tanah Sunda. Beberapa catatan dari orang Eropa yang melakukan perjalanan ke tanah Sunda pada abad 19 mengatakan bahwa di daerah ini sering terlihat "permainan" angklung oleh orang-orang setempat. Angklung memang juga dikenal di daerah-daerah lain di pulau Jawa, tetapi di tanah Sunda alat musik ini lebih populer.

Pada awalnya, angklung tradisional digunakan oleh orang-orang desa pada masa itu sebagai bagian dari ritual kepada Dewi Sri untuk meminta panen melimpah. Umumnya dibawakan dalam tangga nada pentatonis (terdiri dari lima nada) dan memainkan melodi yang berulang. Acara seperti ini biasanya dilakukan di ruang terbuka, sambil menari-nari dengan dengan diiringi alat musik tradisional lain seperti goong, kendang, dan tarompet. Kesenian semacam ini masih dilestarikan di beberapa tempat di Jawa Barat.

Lahirnya Angklung Modern
Awal abad 20, angklung tradisional mulai menghilang. Pada tahun 1938, Daeng Sutigna, seorang guru berpendidikanBelanda di Bandung, menciptakan angklung dalam tangga nada diatonis yang terdiri dari tujuh nada. Hal ini menandai lahirnya angklung modern. Kelebihan angklung ini adalah ia dapat membawakan lagu-lagu Barat klasik dan populer yang rata-rata bernada diatonis, sehingga dapat menjangkau selera musik masyarakat yang lebih luas. 

Kini lagu yang dimainkan tidak lagi berkisar pada lagu-lagu tradisional, tetapi juga lagu-lagu klasik, lagu pop, new age, bahkan lagu rock. Dengan angklung modern, lagu rock melodius seperti We Are the Champion dan Bohemian Rapshody dari Queen dapat dibawakan oleh alat musik angklung!

Angklung "jenis baru" ini pertama kali diperkenalkan pa Daeng kepada sekelompok anak-anak pramuka. Setelah dipertunjukkan oleh murid-murid sekolah pada acara Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung, angklung diatonis atau angklung modern ini semakin dikenal masyarakat hingga saat ini menjadi kegiatan ekstrakurikuler di berbagai sekolah. 

Memang pada awalnya pak Daeng menginginkan angklung sebagai alat pendidikan. Mottonya adalah 5 M : Murah, Mudah, Menarik, Massal, dan Mendidik. Murah, karena bahan-bahan untuk membuat alat musik ini murah dan mudah didapat di Indonesia. Mudah, karena untuk memainkan angklung seseorang tidak perlu memiliki keterampilan 


Oleh: dydy
http://wrm-indonesia.org We R Mommies Indonesia! Generated: 3 March, 2012, 06:06
0
Indonesia Negara tercinta adalah sebuah Negara dimana bambu tumbuh dimana-mana, dimulai dari sabang di sebelah barat dan Merauke di sebelah timur.
Untuk itu tidaklah aneh bila bangsa Indonesia mengatakan bahwa bambu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bangsa kita sehari-hari.
Pernah suatu saat seorang asing yang telah mengunjungi berbagai tempat dinegara kita ini berkata bahwa bangsa Indonesia itu merupakan bangsa yang aneh; karena mereka membangun rumah mereka dari bambu, dimulai dari lantai, dinding, atap, tiang, juga peralatan dapur dan kebutuhan sehari-hari semua dari bambu, bahkan makan pun mereka makan bambu muda, dimana Negara kita terkenal dengan rebung.
Bahkan didalam merebut, membela dan mempertahankan Negara dari tangan penjajah”bambu” tidak sedikit berperan andil (bambu runcing) dan malah sampai waktu meninggal pun bambu berperan penting (usung jenazah).
Hal lain yang menarik, bahwa Indonesia pun pandai membuat alat musik sendiri terbuat dari bambu (suling, calung, munsang, clempung, rengkong, angklung, hatong, dan lain sebagainya).
MASA LALU MUSIK BAMBU
Sejak kapan timbulnya musik yang di buat dari bambu di Indonesia, tidak dapat keterangan yang jelas. Beberapa ahli, seperti J. Kunst (Mr. J dan C.J A Kunst “Musical Exploration in the Indian Archipelago” dalam Asiatic Review, Oktober 1936, hal.814 dan Will G. Gilbert Muziek uit Oost-en West, Inleiding tot de Inchemsche Muziek van Nederlandsch Oost-en West India, (tidak bertahun) hal.9-10) berpendapat, bahwa beberapa alat musik bambu berasal dari masa sebelum adanya pengaruh Hindu. Menurut dugaan mereka, permulaan berkembangnya alat musik dari bambu di Indonesia sangat erat hubungannya dengan perpindahan penduduk dari daratan Asia yang kemudian menjadi nenek moyang suku-suku Melayu Polinesia, beberapa Melanium sebelum Masehi. Dari bukti-bukti yang dapat dikumpulkan, dengan terdapatnya alat musik dari bambu yang sama bentuknya di Asia Tenggara, dugaan tersebut dapat di terima. Sebagai contoh, alat musik bambu berdawai yang di Sulawesi Selatan disebutGandrangbulo, di Priangan terkenal dengan sebutan Celempung, di Jawa Tengah disebut Gumbeng atauGumbeng Jebah, di Bali dinamai Guntang.
Alat seperti itu, dengan berbagai variasinya antara lain terdapat di Siam Utara (Hugo A. Bertzik, Die Gaister der Gelben Blutter 1938, hal. 174); di Laos (A. Schaeffoer, Origine des Instrumente de Musque, 1938 hal. XII.
Di Kamboja dikenal dengan sebutan Dianglye (Curt Sachs), Die Musikinstrumente Indies und Indonesiens, 1915 hal. 97. Di beberapa tempat di Malaysia biasa disebut Gendang Batak (Hendry Balfour, Musical Instruments from Melay Peninsula, Antropology, part 11, 1954 hal. 17; Orang-orang Sakai menyebutnya Krob, orang semang menyebutnya Amang (M. Kelsinki, “Die Musik der Primitiv Stamme auf Malaka” Anthrops, XXV, 1930 hal. 591.
Demikin pula di berbagai daerah di Indonesia, dengan berbagai variasi dan bentuk dan penamaan terdapat alat musik dari bambu berdawai.Bahkan di Madagaskar, menurut Sachs, (Curt Sachs, Les Instrumente de Musique de Madagascar, 1938 hal. 51) alat seperti itu terdapat pula, dikenal dengan sebutan veliha, verdiha (na) atau marovany.
Dengan adanya persamaaan bentuk dari bambu sebagaimana dikemukakan di atas, yang dapat dikatakan salah satu ciri persamaan selera dari kebudayaan yang sama pendukungnya, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa perkembangannya musik bambu di Indonesia erat kaitannya dengan perpindahan nenek moyangnya dari daratan Asia. Perpindahan yang dimaksud mungkin sekali perpindahan gelombang pertama, yakni perpindahan suku Negri to Weda yang terjadi pada zaman Mesolitikum, bahkan tidak mustahil sebelumnya. Sebagaimana dimaklumi sebelum adanya perpindahan suku bangsa Palaeo Mongolid di Nusantara sudah ada suku-suku bangsa yang menetap yang juga berasal dari daratan Asian yang kini sisa-sisanya antara lain adalah pendududk asli Irian (M. Amir Sutarga, “Tjiri-tjiri Antopologi Fisik dari penduduk pribumi” dalam buku : Penduduk Irian Barat, dbawah redaksi Koentjaraningrat dan Harsja W. Bachtiar, 1963, hal. 22-23). Penduduk Irian ternyata memiliki berbagai alat musik dari bambu, antara lain yang bentuknya seperti di kenal di Pasundan dengan sebuahKerinding, di Jawa Tengah dan di Jawa Timur disebut Rindhing atau Genggong, dan Bali disebutGinggung. Alat seperti ini dapat ditemui di berbagai tempat di Irian, seperti di sekitar Jambi, Tarung Garem Awembiak, Den Dema, di sekitar Gunung Jaya Wijaya dan di Hulu sungai Apauwar. Periksalah lebih lanjut : L.M. d’Alberts, New Guena, jilid I, hal. 359; W.N. Beaver, A description of the Ciraca District, western Papua, jilid III, 1914 hal. 407, R. Parkinson, Im Bismarck Arcchipel, Erlehnisse und Beobachtungen auf der Insel Neu Bommen, 1887 hal. 122; Curt Sachs, Geist und Werden der Musikinstrumente, 1929, jilid III, gambar No.59; G.A.J van der Sande, Uitkomsten der Nederlandsche Niew Guenia Expeditie onder leiding van Prof. A. Wichman, jilid III; ch. Le Roux, “Expeditie naar het Nassaugebergie in Cental Noord Nieuw guinea”, TBG LXVI, hal. 447-513, 1926; Dr. J. Kunst, A Sturly on Papuan Music, peta lampiran “Distribution of Musical Instruments in New Guinea and the Adjacent Islands, 1931.
Dengan dikenalnya alat musik dari bambu oleh penduduk pedalaman Irian Jaya yang dapat dikatakan sebagai monument kebudayaan zaman Batu Tua, dapatlah kiranya diterima pendapat, bahwa alat musik dari bambu di Indonesia sudah berkembang sejak zaman itu. Jadi tidak seperti pendapat Will Gilbert, yang menyebutkan berkembangnya musik bambu di Indonesia sejalan dengan perpindahan penduduk dari daratan Asia……… eerste millennium v. Christ (Will G. Gilbert, op.cit, hal.20) atau seribu tahun sebelum Masehi, melainkan jauh sebelum itu, mungkin antara 10.000 sampai 5.000 tahun sebelum perhitungan tahun Saka. Pada zaman itu kebudayaan setingkat dengan orang Tasadi, suatu suku terasing di pedalaman Mindanau (Filipina) yeng belum mengenal logam dan cocok tanam dan masih hidup di goa-goa. Orang Tasadi juga mengenal alat musik bambu, yakni alat musik bambu berdawai yang mereka namai kubing. Sebagaimana dimaklumi orang Tasadi ini baru ditemukan dan teradi kontak dengan orang luar lingkungan mereka pada tahun 1971.
Alat-alat musik bambu yang tampak pada relief Candi Borobudur dan candi-candi yang lain, dari bentuk dan jenisnya menunjukan adanya pengaruh hindu, seperti Bangsing, (suling lintang, wangsi). Sedang alat-alat yang sudad ada sebelumnya, seperti alat musik berdawai dan sebagainya, tidak digambarkan. Gambang bambu seperti yang digambarkan pada relief Borobudur dan teras depan Prambanan, sampai sekarang masih merupakan alat musik sacral di kalangan penganut agama Hindu di Bali. Di beberapa pura tua, seperti di pura Kelaci Denpasar, terdapat gambang demikian yang kelihatan sudah sangat tua. Alat itu biasa dipergunakan dalam upacara-upacara penting terutama dalam Pengaben.
Sebagai makhluk yang berakal, bagaimanapun sederhanaya, dalam mencukupi hajat kebutuhannya, nenek moyang bangsa Indonesia sejak zaman purba telah memanfaatkan bahan yang mudah didapat dan dibuat alat, yaitu bambu.
Perubahan bentuk dan peningkatan mutu alat-alat musik dari bambu tampak sangat lamaban, bahkan ada yang sama sekali tidak mengalami perubahan. Di beberapa daerah dewasa ini masih terdapat alat musik dari bambu yang hanya berupa ruasan bambu yang dibunyikan dengan cara ditumbuk-tumbukan pada sebuah papan, seperti Garantang di Tohpati Kasiman, Bali. Ada pula yang ditabuhnya dengan dipukul dengan pemukul dari kayu, seperti Guyonbolon di Banjaran, Bandung Selatan. Tongtong atau kentongan, bambu tersebar diberbagai daerah di Indonesia. Di daerah Sumenep, Madura, Tuk-tuk, biasa digunakan sebagai bunyi-bunyian pengiring karapan Sapi, dilengkapi dengan Sronen, semacam terompet yang tabungnya dibuat dari bambu pula. Tennong di Pangkajene, Sulawesi, adalah sebuah alat bambu sederhana pula, berbentuk bilahan bambu sebanyak 4 buah, dijajarkan di atas paha pemainnya. Dalam hal ini paha berfungsi sebagai penyangga dan sekaligus menjadi resonator.
Menurut keterangan dari orang tua setempat, Tennong biasa dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu rakyat di Pangkajene Kepulauan.
Di sekitar Cakung-Jakarta Timur, alat musik semacam Tennong, tetapi dilengkapi dengan penyangga dari gedebong pisang di sebut Sampyong, biasa digunakan sebagai Ujungan atau Tari Uncul.
Alat musik dari bambu yang mengalami perkembangan yang wajar adalah suling. Hampir disetiap suku bangsa di Indonesia mengenal dan memiliki suling dengan berbagai bentuk dan jenis, serta fungsi. Contohnya di Pasundan terdapat semacam suling yang disebut Surilit, Taleot, Harong, Hatong Renteng,Hatong Sekaran, Elet, Calintu, dan Bangsing.
Diantara berbagai macam suling terdapat pula yang digunakan sebagai alat musik yang berhubungan dengan adat kepercayaan setempat, seperti Suling Lombang, di Tanah Toraja. Suling dapat memebawakan lagu-lagu sedih yang menyayat hati, atau lagu-lagu yang menggembirakan pendengarnya. Dapat pula dibawakan lagu-lagu syahdu berjiwa keagamaan. Itulah mungkin antara lain sebabnya di Maluku suling diperkembangakn sebagai alat musik Gerejani. Di Ambon dan Lease nyanyi-nyanyian Jemaat Gereja biasa diiringi Orkes Suling, yang dibawakan oleh sejumlah pemuda.
Menurut pendapat Dr. Th. Muller Kruger, bila dibandingkan dengan iringan orgel-orgel kecl yang dipakai oleh kebanyakan jemaat-jemaat di Indonesia, orkes suling bambu jauh lebih baik dan bermanfaat. Alat-alatnya mudah dibuat sendiri dari bahan yang banyak terdapat di Indonesia. Sedang Orgel harus dibeli dengan harga yang mahal dari luar negeri. Taraf musiknya pun orkes suling bambu tidak kurang indahnya dari orgel. Manfaatnya untuk kehidupan gerejani banyak pula, sebab dengan digunakannya orkes suling bambu para pemuda mendapat tugas dan tanggung jawab dal kebaktian-kebaktian. Orkes suling bambu di Maluku dikembangkan oleh Jozef Yam, seorang domine yang disana dikenal dengan sebutan “Rasul Maluku” yang melakukan pekabaran Injil di Indonesia bagian timur sejak tahun 1816 (Dr. Th. Muller Kruger, Sejarah Gereja di Indonesia, 1966 hl. 95).
Rupanya di Filipina suling bambu sebagai alat musik Gerejani pernah ditingkatkan lagi bentuknya, yakni disusun sebagai organ. Sebuah organ bamboo yang dibuat tahun 1819 dibawah pengawasan seorang Rahib Ahustin di beritakan pada tahun 1973 dalam keadaan rusak berat, sehingga untuk perbaikinya diperlukan danma sebesar 64.000 dollar Amerika (Harian Umum Berita Buana, 13 Juni 1973 hal. 4). Hal ini saya kemukakan sekedar memberikan gambaran betapa besar apresiasi ,asyarakat tetangga kita itu terhadap alat musik bambu yang telah dikembangkan.
Alat musik bambu lainnya yang mengalami berbagai pasang surut dalam perkembangannya adalah angklung, sebagaimana akan kita tinjau bersama.
PASANG SURUT ANGKLUNG
1. Data Tertulis Peninggalan Masa Lalu
Sejak kapan angklung muncul dan berkembang, merupakan pertanyaan yang saya tidak dapat menjawabnya dengan pasti. Menurut perkiraan Dr. Groneman, sebelum berkembangnya pengaruh Hindu di Indonesia Angklung sudah merupakan alat musik yang digemari penduduk (Dr. J. Groneman. “De Gamelan to Jogjakarta, Letterkundige Vehadelingen der Koninkl, Akademi, jilid XIX, hal. 4).
Sebagai alat musik pra Hindu, Angklung tidak digambarkan pada candi Borobudur dan Prambanan, sebagaimana halnya alat musik bambu lainnya yang sudah  berkembang sebelum zaman zaman Hindu di Indonesia, misalnya alat musik bambu berdawai.
Dalam literature kuno pun saya tidak atau belum menemukannya, Kekawin Arjunawiwaha yang diperkirakan ditulis sekitar tahun 1040 hanya menyebut-nyebut Sundari (semacam erofon yang di Jawa Barat dikenal dengan sebutan Sondari, di Bali Sundaren). Calung yang dewasa ini terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah, disebut-sebut dalam Inskripsi Buwahan yang diperkirakan dibuat sekitar tahun 1181.
Guntang alat musik bambu berdawai yang penyebarannya meliputi Asia Tenggara sampai Madagaskar, dan sampai sekarang di Bali tetap disebut Guntang, terdapat dalam Kekawin Kidung Sunda yang diperkirakan ditulis tidak lama setelah tahun 1357. Alat yang di Priangan disebut Pancurendang, di Jawa Tengah disebut Bluntak, dan di Bali disebut Taluktak, disebut-sebut dalam kekawin Bharata Yuda.Tongtong atau kentongan bambu disebut-sebut dalam Sudhamala dengan Kulkul, dalam Samarandana disebut Titiran, dan dalam Bharata Yudha disebut Kukulan. Baru dalam tulisa-tulisan kemudian seperti dalam serat Cebolang, Angklung disebut-sebut, yaitu waktu melukiskan saat Mas Cebolang mempertunjuknan keahliannya menyanyi dan bermain musik didepan Bepati Dhaha Kediri.
2. Fungsi Angklung Tradisi
Angklung yang dibunyikan dengan cara digoyang-goyangkan adalah termasuk golongan lonceng. Seperti lonceng, angklung bersifat khidmat serta biasa digunakan dalam hubungan kegiatan ritual. Di beberapa tempat di Bali angklung biasa digunakan khusus dalam upacara Pengaben (pembakaran mayat). Namun dewasa ini hal itu terbatas pada kelomopok penduduk yang tidak memiliki angklung metalopon, seperti penduduk Banjar Tegalingah, Karangasem.
Orang Baduy di Kanekes , Bnaten Selatan, mempergunakan angklung sebagai alat musik upacara pada waktu menjelang menanam padi di ladang, sebutannya Angklung Buhun.
Angklung Gubrag di kampong Jati, Serang, dianggap alat musik sacral, untuk mengiringi mantera pengobatan orang sakit atau menolak wabah.
Seperti halnya di Kanekes, di sekitar Kulon Progo terdapat angklung yang digunakan dalam upacaraBersih Desa, permulaan musim menggarap sawah, disebut Angklung Krumpyung. Demikina pula di desa Ringin Anca dan Karangpatian, Ponorogo, upaca Bersih Desa biasa diiringi Orkes Angklung.
Pada umumnya dewasa ini di berbagai tempat, angklung merupakan alat kesenian yang profan, seperti halnya di Madura. Di pulau itu, sepanjang pengetahuan saya angklung hanya terdapat di Desa Keles, Kecamatan Ambuten, dan di desa Biuto, Kecamatan Srunggi, keduanya termasuk wilayah kabupaten Sumenep, biasa digunakan untuk memeriahkan arak-arakan.
Menurut keterangan, dahulu di beberapa tempat di Kalimantan Barat terdapat angklung, yang contohnya tersimpan dalam Museum Insdisch Institut di Negeri Belanda, tercatat dalam katalogus No. 1297/1-2 dan 1767/1-3.
Akan tetapi dewasa ini menurut beberapa tokoh kebudayaan dan pejabat-pejabat Kanwil Depdikbud Kalimantan Barat, di wilayah itu tidak terdapat lagi angklung tradisional.
Di Kalimanatan Selatan sekarang masih terdapat angklung tradisional yang dikenal dengan sebutan Kurung-kurung, biasanya digunakan untuk mengiringi pertunjukan Kuda Gepang (Sie) yang bentuk dan cara pertunjukannya hampir sama dengan Kuda Kepang di Jawa Tengah.
Menurut keterangan, Kata Gepang disini berarti gepeng atau pipih. Jadi berlainan dengan arti anyaman, walaupun bentuk dan kuda-kudanya sama, yaitu terbuat dari anyaman bambu.
Di Lampung pada masa-masa yang lalu terdapat pula angklung tradisional, yang contohnya dipamerkadi Museum Leidan, Negeri Belanda dengan katalogus No. 40/58. Namun sekrang sulit untuk mendapatkan keterangan mengenai angklung tradisional di wilayah tersebut, kecuali yang dikembangkan oleh beberapa kelompok transmigran dari Jawa.
3. Perubahan Sifat dan Fungsi
Sebagaimana telah dikemukakan, hampir tidak ada keterangan tertulis autohtonis dari angklung pada masa dahulu, yang terdapat hanyalah cerita-cerita lisan, sebagaimana terdapat dalam beberapa cerita rakyat di Kanekes, Banten Selatan yang biasa dibawakan dalam bentuk pantun. Menurut cerita di sana, pada masa kebesaran Pajajaran, kerajaan di Pasundan, disamping sebagai alat musik upacara pertanian, angklung biasa digunakan sebagai alat musik angkatan bersenjata, semacam Marching Band.
Melihat cara-cara permainan angklung di Banten selatan dan di beberapa tempat Priangan, demikian pula peranannya dalam pertunjukan Reog Ponorogo dan permainan Kuda Kepang, kemungkinan dipergunakannya angklung sebagai alat musik tidaklah mustahil.
Hal itu dinyatakan oleh beberapa pengamat Belanda, antara lain seorang dengan initial G.J.N., dalam zaman INDIE tahun pertama, No. 21, 22 Agustus 1917 hal.330 tentang angklung di Priangan, dengan tegas mengatakan : “En geen wonder : de angkloeng is militaire muziek” (“dan tidak mengherankan: angklung memang musik militer”).
Demikian seorang dengan naman samaran “Bianca” dalam majalah de ORIENT No. 52, 24 Desember 1938, tentang angklung sunda antara lain menulis; Over het algemeen draagt angkloeng muziek een opwekkend en vroolijk karakter, maar het heft ook zijn krijgslystige en mystiekezijde (“pada umumnya musik angklung menggairahkan dan menggembirakan, tetapi juga dapat menimbulakan semangat perjuangan dan mistik”).
Penulis lain yang anonim adalah majalah WOLANDA HINDIA tahun ke-12 No.6, 1939, setelah menyaksikan beberapa pertunjukan angklung Priangan, antara lain menulis: Dat deze muziek indruk op de beveling maakt, is bewezen. Zij beluisteren in de klanken krijgsmuziek, tewijl daartegen over bij anderen zinnelijke aandoeningen worden opwekt” (Bahwa musik ini maksudnya musik angklung, pen) dapat menimbulkan kesan mendalam bagi penduduk, cukup terbukti. Mereka mendengar musik parang dalam bunyinya, sedang bagi yang lain menimbulkan emosional”).
Demikianlah pengaruh musik angklung pada pendukungnya di Priangan pada masa lalu. Maka tidak mengherankan bila pada pertengahan abad ke XIX, ketika di Pasundan sedang giat-giatnya dilaksanakan apa yang disebut “Cultuurstelsel” atau peraturan tanam paksa oleh pemerintah Hindia Belanda diadakan larangan terhadap permainan angklung.
Alasan larangan itu, karena menurut pengamatan beberapa pembesar Belanda Kolonial, permainan angklung berpengaruh terhadap semangat perlawanan rakyat atas kekuasaan pemerintah jajahan dalam larangan itu dikecualikan permainan angklung anak-anak dan pengemis, mungkin karena dianggap tidak menimbulakan keresahan dan tidak membahayakan bagi ketentraman pemerintah jajahan Belanda.
Sejak itulah angklung turun derajatnya dari alat musik militer dan alat musik upacara yang dianggap sakral menjadi alat musik yang biasa digunakan oleh pengemis untuk mencari nafkah sepanjang jalan dari belas kasihan orang.
Setelah larangan itu dicabut, yaitu sejak dihapusnya sistem tanam paksa, angklung tidak banyak lagi pengaruhnya bagi penduduk, kecuali sebagai alat musik dalam berbagai pertunjukan rakyat seperti reogatau ogel.
Keadaan nasib angklung di Priangan yang demikian itu berlangsung hampir satu abad. Baru menjelang masa penjajahan Jepang terjadi perubahan, sebagai hasil kreativitas dan usaha tidak kenal mundur dari Daeng Soetigna, seorang Guru di Kuningan, kelahiran Garut.
Pada masa gerakan kebangsaan di kalangan bangsa Indonesia makin menggelora, angklung yang sekian lamanya ikut menjadi korban penjajahan asing, mulai terjaga kembali.
Sejak tahun 1938 Daeng Soetigna dengan tekun mengadakan eksperimen-eksperimen agar angklung yang diketahui sebagai salah satu unsur seni budaya bangsanya dan merupakan warisan yang pantas dipupuk dan dikembangkan, mendapat tempat yang layak di kalangan masyarakat luas.
Setelah lama dipelajari dari berbagai segi, Pak Daeng sampai pada kesimpulan, bahwa angklung dapat cepat popular harus disesuaikan dengan selera generasi muda, yaitu diubah tangga nadanya dari pentatonis menjadi diatonis.
Setelah mengalami berbagai hambatan dan kegagalan, akhirnya usaha inovator itu berhasil dengan memuaskan.
Angklung kembali mendapat tempat yang layak di masyarakat. Bahkan mendapat reputasi internasional, sebagaimana terbukti dari pernyataan seorang musikus besar Australia IGOR HMEL NITSKY pada tahun 1955, sebagai berikut :
“It is with pride and admiration that take this opportunity of placing on paper my surprise delight that Daeng Soetigna has found such a practical and fasginating method af teaching the youth of Indonesia how to a appreciate and play their own historic instrument, the angklung. His original idea of enabling young children to read and understand that tonal structure by visual and practical demonstration, is to say the least, wonderful.
This extraordinarily talented young teacher has also found a way in which to use is national idion to bring European music to the people of his country. The great value in giving the players the rare combination of pleasure and discipline-i.e. good teamwork which would give a unique satisfaction both to performers and audience.
I doubt whether Australia is the ideal place in which he should study further, and feel that his development would be best nurtured by study and research in European contries, and I sincerely hope that he will have the opportunity of so doing, and thus be in the position to further enrich his countrymen in this practical, educational, cultural and national interest”
Dengan kreasi Pak Daeng itu ternyata kemudian, bahwa angklung dapat dijadikan sarana pendidikan untuk mempertebal jiwa gotong royong, kerjasama, disiplin, kecermatan, ketangkasan, tanggungjawab dan sebagainya, disamping pemupu rasa musikalis.
Berdasarkan hal-hal itulah, meskipun menurut anggapan beberapa pihak, angklung sebagai alat musik memiliki beberapa kekurangan, akan tetapi dapat dipertanggungjawabkan sebagai alat pendidikan, sehingga Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memandang perlu untuk menetapkannya sebagai alat pendidikan musik di sekolah, dengan Surat Keputusan tertanggal 23 Agustus 1968, No.082/1968 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah memutuskan:
1.    Menetapkan angklung sebagai alat pendidikan musik dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
2.    Menugaskan Direktur Jenderal Kebudayaan untuk mengusahakan agar angklung dapat ditetapkan sebagai alat pendidikan musik tidak hanya dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Demikian, angklung seolah-olah melambangkan pasang surutnya sejarah bangsa Indonesia. Ketika bangsa Indonesia berada dalam telapak kaki penjajah, angklung hanya menjadi alat musik pengemis. Dengan dicapainya kemerdekaan, kembali angklung menjadi alat musik yang dapat dibanggakan.
…….Angklung sudah mengajarkan kepada kita untuk hidup berdampingan dalam keberbedaan untuk mencapai tujuan bersama, dengan demikian janganlah mengharamkan perbedaan, justru dengan adanya perbedaan maka lahirlah sebuah harmoni. Jadi perbedaan itu bukan untuk ditandingkan, tapi untuk disandingkan. Dengan perbedaan kita coba mengembangkan kekuatan baru.



Oleh : Obby AR. Wiramihardja
Ketua Umum Masyarakat Musik Angklung (MMA – Angklung Music Aociety)
0
Next PostNewer Posts Home