Ahli waris maestro angklung Daeng Soetigna, meminta penyebutan angklung modern yang salah selama ini, baik oleh masyarakat maupun media massa, diperbaiki. Angklung modern tak boleh disebut angklung saja, tapi harus angklung padaeng.

Erna Ganarsih Pirous, putri Daeng Soetigna, menyampaikan hal itu ketika bertemu anggota DPR dari Komisi X,Theresia Pardede, dalam FGD “Skema Road Map Angklung Indonesia” di Gedung Pramuka, Jalan RE Martadinata,Kota Bandung,kemarin. Angklung modern diciptakan almarhum Daeng Soetigna 1938 dengan mengubah nada pentatonis menjadi nada diatonis- kromatis. Tetapi, masyarakat kini terlanjur menyebut angklung ciptaan Daeng Soetigna itu dengan “angklung” saja seolah-olah sama dengan angklung tradisional.

Padahal keduanya berbeda. Angklung tradisional memiliki nada daminatilada seperti angklung buncis, angklung baduy, angklung dogdog lojor. Sementara angklung modern bernada doremifasolasido,tidak lain adalah angklung ciptaan Daeng Soetigna yang sebenarnya sejak dulu punya nama sendiri yakni angklung padaeng.

Konsultan dan dosen pascasarjana HaKI Institut Teknologi Bandung Rizki Adiwilaga menjelaskan, Daeng Soetigna sebagai pencipta angklung diatonis- kromatis memiliki hak natural untuk dicantumkan namanya dalam penyebutan angklung modern. “Penyebutan angklung padaeng harus,tidak bisa tidak dilakukan. Ini kewajiban moral terhadap warisan almarhum Pak Daeng yang tak bisa kita tinggalkan begitu saja,”begitu katanya. 

Dalam menyusun road map angklung, kata Rizki, sejarah harus disampaikan sejak awal agar nantinya tidak salah. “Pemerintah saja belum tahu jenis angklung itu ada apa saja,” beber Rizki yang juga anggota tim pakar Genetic Resources Traditional Knowledge and Folklore (GRTKF) di Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Lingkungan Hidup. Menurut Rizki, angklung yang diakui UNESCO sebagai budaya benda warisan manusia (intangible cultural heritage of humanity), merupakan angklung secara umum (generik). 

Sementara angklung padaeng adalah angklung secara khusus. Bisa saja, kata Rizki, ahli waris menuntut hak ekonomi atas angklung modern. Merespons itu, anggota DPR Tere berjanji memperjuangkan aspirasi yang diutarakan para peserta FGD terutama dari ahli waris Daeng Soetigna. FGD kemarin sengaja digelar Tere dalam masa resesnya sebagai legislator yang mewakili rakyat Jawa Barat. ? Sumber
0

laras asri


Kata “ Caruk” berasal. Dari bahasa Using, yang berarti “bertemu.”Pertemuan dua kelompok pemain angklung dan mereka saling mengadu ketangkasan memainkan angklung, disebut dengan angklung caruk. Dua grup tersebut memainkan angklungnya bersama dan saling bersaing ketangkasan. Penonton biasanya terbagi dalam 3 kelompok : dua diantaranya merupakan rival yang masing-masing mendukung angklung kesayagannya, sedang yang satu berpihak pada dua pemain angklung dan mereka ingin mengetahui secara keseluruhan permainan. Permainan angklung ini menjadi sangat meriah, karena dukungan masing-masing penonton.

Angklung caruk di Banyuwangi
Kota Banyuwangi pantas disebut kota seni, karena mempunyai banyak mahakarya seni pertunjukan yang diwariskan oleh leluhur kita, salah satunya kesenian angklung caruk. Bagi sebagian masyarakat Banyuwangi khususnya masyarakat Osing kesenian Angklung Caruk sudah tidak asing lagi. masih sering diselenggarakan oleh masyarakat seperti acara perkawinan, khitanan maupun acara lain seperti perayaan hari kemerdekaan RI.

Sebenarnya kesenian ini sangat unik karena mengadung unsur sportifitas antara grup satu atau “panjak”(sebutan penabuh dalam bahasa Osing) dengan grup lainnya.

Asal Mula Kenian Angklung Caruk
Angklung Caruk merupakan salah satu dari beragam kesenian yang berkembang di Banyuwangi. Pada mulanya angklung digunakan oleh petani di sawah untuk melepas lelah disaat istirahat. Angklung diletakkan di atas sebuah pondok yang tinggi atau masyarakat menyebutnya “paglak”, sehingga disebut “angklung paglak”.

 Selain itu para petani juga gemar mengguunakan angklung di saat memanen sawah mereka sebagai iringan musik. Uniknya zaman dahulu seorang petani yang memanen sawah memiliki tradisi “ngersoyo” ( gotong royong), pemilik sawah yang memanen sawahnya dibantu para kerabat dan tetangga sehingga si pemilik sawah memberikan sebuah hiburan kepada orang-orang yang telah membantunya di sawahnya dengan angklung yang diletakkan di “paglak”.

 Biasanya penabuhnya hanya terdiri dari 2 sampai 3 orang saja. Instrumennya terdiri dari 1 angklung (yang mirip dengan angklung di Bali) dan gendang berukuran kecil. Sembari menabuh angklung penabuhnya juga menyanyikan gending-gending khas Banyuwangi. Dari sinilah angklung caruk terbentuk.

Mengapa disebut agklung caruk? “Caruk” merupakan bahasa Osing yang berarti “temu” atau “bertemu”, sehingga angklung caruk mempunyai pengertian dua kelompok kesenian angklung yang dipertemukan



Cara Memainkan Angklung Caruk
Dalam satu panggung. Dua kelompok kesenian ini saling beradu ketangkasan dalam memainkan angklung. Pada sesi pertama pertunjukan angklung caruk diawali dengan “larasan” yaitu pertunjukan tari yang dibawakan oleh seorang laki-laki dari masing-masing kelompok yang disebut “badut”. Mereka bargantian menari sesuai dengan kesepakatan.

Kemudian di sesi selanjutnya “adol gending” yaitu misalnya kelompok A memberikan aba-aba berupa ketukan sebuah lagu Banyuwangian yang ditujukan kepada kelompok B, dan jika kelompok B tahu ketukan tersebut maka dilanjutkan ketukan tersebut hingga membetuk sebuah iringan musik dan apabila kelompok B tidak bisa atau salah ditengah perjalanan maka kelompok A mengoloknya begitu sebaliknya. Walaupun terjadi “padu-paduan” (olokan dan ejekan). Uniknya kedua kelompok dan pendukungnya saling menjaga sportifitas dan kerukunan.



kesenian angklung caruk Banyuwangi sebagai salah satu obyek wisata budaya 
Seiring dengan bertambah majunya jaman dan teknologi, masyarakat seakan terlupa akan kesenian khas yang dimilikinya. Salah satunya yaitu kesenian Angklung Caruk yang merupakan kesenian tradisional warisan nenek moyang kita yang seharusnya kita jaga dan mempertahankannya sebagai ciri khas Banyuwangi.

Oleh karena itu hal ini merupakan tantangan bagi masyarakat Jawa Timur khususnya Banyuwangi untuk berupaya sedemikian rupa untuk mencegah semakin tenggelamnya kesenian tradisional tersebut. Didalam upayanya mengangkat kembali kesenian tradisional tersebut banyak ditemui berbagai macam kendala yang harus dipecahkan demi kelangsungan diri kesenian Angklung Caruk tersebut.

 Setelah kendala dapat dipecahkan kita dapat melakukan upaya-upaya lainnya yang ikut menunjang keberadaan Angklung Caruk di dalam tujuannya untuk diangkat menjadi salah satu obyek wisata budaya Jawa Timur. Upaya-upaya tersebut meliputi pembenahan-pembenahan baik ke dalam yaitu kesenian Angklung Caruk itu sendiri maupun ke luar yaitu pihak-pihak dan hal-hal yang bersangkutan dengan kemajuan kesenian itu sendiri.

Adapun pembenahan ke dalam yang dilakukan antara lain pembenahan sarana dan prasarana, pembinaan mental para pemain, pembinaan masyarakat, dan lainnya sedangkan pembenahan ke luar dapat berupa promosi. Sehingga melalui usaha-usaha tersebut diharapkan kesenian tersebut dapat berkembang dan diangkat kembali untuk dijadikan sebagai obyek wisata yang menarik dan berpotensial sehingga selain dapat menarik minat para wisatawan yang berkunjung juga dapat menunjang kepariwisataan Jawa Timur khususnya Banyuwangi baik dimasa kini maupun di masa yang akan datang.

Sumber :
0
angklung



Pada tahun 1968, surat keputusan menteri pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan menetapkan angklung sebagai alat pendidikan musik di sekolah-sekolah. Sejak itu pula, angklung seharusnya sudah menjadi bahan pengajaran di berbagai jenjang pendidikan di Indonesia.

Namun, kini, 44 tahun kemudian, upaya menghidupkan kembali angklung sebagai alat musik bambu asli Indonesia belum menunjukkan hasil. Sekolah-sekolah masih sepi angklung. Bahkan, di Bandung, Jawa Barat, tempat asal muasal angklung di Indonesia, jumlah sekolah yang benar-benar mengajarkan alat musik itu bisa dihitung dengan jari.

”Angklung adalah alat musik bambu asli Indonesia yang sudah dikenal sejak berabad-abad lalu. Upaya pelestarian angklung dengan cara menghidupkannya kembali sebagai alat musik tidak pernah terwujud. Angklung hanya dikomodifikasi sebagai alat pencitraan politik,” kata Handiman Diratmasasmita (73) beberapa waktu lalu.

Handiman pantas merasa khawatir. Sebagai satu-satunya penerus angklung hasil inovasi almarhum Pak Daeng, ia melihat tidak banyak lagi orang memainkan angklung. Di negerinya sendiri, angklung dianggap sebagai alat untuk sekadar bermain bunyi-bunyian, bukan sebagai alat musik yang serius dimainkan.

Angklung Pak Daeng bermula tahun 1938 ketika Daeng Soetigna, guru di Sekolah Rakyat Kuningan, Jawa Barat, menginovasi angklung berlaras pentatonik menjadi diatonik. Dengan laras diatonik, angklung bisa dimainkan sebagai alat musik modern sesuai dengan komposisi lagu modern, seperti pop, keroncong, lagu klasik barat, dan rock.

Handiman adalah satu-satunya murid Pak Daeng yang ahli membuat angklung. Di antara empat murid langsung Pak Daeng, termasuk almarhum Udjo Ngalagena pendiri Saung Angklung Udjo, hanya Handiman yang menekuni pembuatan angklung. Namun, angklung produksi Handiman berbeda dengan lainnya karena dibuat benar-benar untuk keperluan bermusik.

Untuk keperluan itu, Handiman meriset nada-nada dari angklung ciptaannya. Setiap jenis lagu yang akan dimainkan, seperti lagu pop, rock, keroncong, atau lagu klasik, membutuhkan jenis bambu yang berbeda pula. Karena itu, riset sangat dibutuhkan.

Sebatas euforia

Handiman melihat gerakan pemerintah untuk melestarikan angklung sebagai alat musik bambu asli Indonesia hanya euforia. Angklung dimainkan di mana-mana, tetapi sekadar sebagai alat demonstrasi cara bermain angklung.

Tahun 2011, misalnya, sebanyak 5.000 angklung diterbangkan ke Washington DC, Amerika Serikat, untuk dimainkan secara massal demi memecahkan rekor dunia. Beberapa bulan kemudian, 10.000 angklung diproduksi oleh perajin angklung di Bandung dan dimainkan untuk kepentingan yang sama.

”Tidak ada yang pernah menciptakan komposisi lagu menggunakan angklung, seperti halnya piano, gitar, keyboard, atau alat musik lainnya,” kata Handiman. Di Jepang dan beberapa negara Eropa lainnya, angklung sudah diteliti, kemudian dipelajari untuk menciptakan komposisi lagu.

Handiman pernah didatangi seorang profesor musik dari Jepang yang meminta dibuatkan angklung. Ahli etnomusikolog itu kemudian meneliti dan mempelajari angklung buatan Handiman untuk menciptakan komposisi musik. Beberapa musikolog dari negara lain juga menggunakan angklung Handiman untuk bermusik.

Kecintaan Handiman terhadap angklung dimulai sejak kecil. Ia mengenal angklung dari Pak Daeng ketika mengikuti kegiatan Kepanduan (Pramuka) tahun 1938. Pak Daeng tidak hanya mengajarkan bermusik dengan angklung, tetapi juga mengajarkan cara membuat angklung. ”Pada waktu itu kami membuat angklung untuk kebutuhan sendiri (Pramuka),” kenangnya.

Oleh gurunya, Handiman diajak keluar-masuk hutan bambu di berbagai pelosok daerah di Jawa Barat, untuk memilih jenis dan struktur bambu yang bagus untuk angklung. ”Saya diajarkan bagaimana memilih bambu dan mengetahui ilmu tentang bambu sebelum membuat angklung,” ujar Handiman.

Proses membuat angklung alat musik tak mudah. Dibutuhkan hampir satu tahun semenjak bambu ditebang, dijemur, lalu disimpan agar bambu kering. Penyimpanan ini sekaligus untuk menguji apakah bambu dimakan mikroorganisma yang bisa membuat bambu lapuk.

Demi mempertahankan kualitas angklung buatannya, Handiman masih sering pergi ke daerah terpencil untuk mendapatkan bambu berkualitas. Seluruh daerah di pesisir pantai selatan Jawa Barat sudah habis dijelajahi. Demikian juga dengan kebun-kebun bambu milik masyarakat di daerah Cirebon, Tasikmalaya, Majalengka, Garut, Kuningan, dan Sumedang (seluruhnya di Jawa Barat).

Karena proses produksi yang lama, dalam sebulan Handiman hanya bisa membuat satu unit angklung, terdiri dari 100-130 angklung melodi, akompanyemen (akord), dan ko-akompanyemen. Setiap hari ia ikut bekerja di bengkel kerja sekaligus rumahnya, di Jalan Surapati, Bandung.

Selain menyetel nada pada tabung resonansi angklung, ia juga terus meneliti jenis-jenis nada tertentu, disesuaikan dengan jenis bambu. Pada beberapa produknya yang berkualitas sangat tinggi, ia membubuhkan tanda tangan.

Tantangan yang dihadapi angklung, menurut Handiman, adalah tidak ada generasi penerus yang bisa membuat angklung sebagai alat musik. ”Kalau sekadar dimainkan sih, pembuatnya banyak. Namun, pembuat angklung untuk alat musik sangat jarang,” kata Handiman.

Keprihatinan ini membuat Handiman bergerak memberikan pelatihan-pelatihan cara memproduksi angklung sebagai alat musik di daerah Bandung, termasuk di Saung Angklung Udjo. Setiap tiga bulan sekali, ia juga membuat sarasehan tentang angklung untuk berbagi ilmu dengan perajin lainnya. Namun, ia belum mendapatkan penerus yang bisa dan mau benar-benar mempelajari cara membuat angklung dengan benar.

Menurut Handiman, rata-rata perajin mengejar produksi angklung tanpa memperhatikan kualitas. Pembuat angklung alat musik sebaiknya perajin yang bisa memainkan angklung sehingga ia bisa menyetel nada dengan benar.

Tantangan lainnya adalah semakin langkanya jenis bambu untuk angklung. Bambu terbaik untuk angklung antara lain bambu temen (Gigantochloa atter), bambu wulung (Gigantochloa atroviolacea), bambu lengka (Gigantochloa hasskarliana), dan bambu tali (Gigantochloa apus Kurz).

Sekarang ini, lanjutnya, tidak banyak petani bambu yang mau menanam jenis-jenis bambu untuk angklung. Mereka lebih memilih menanam jenis bambu lain untuk keperluan pembuatan sumpit, perabotan rumah, atau bangunan rumah karena pembelinya lebih banyak daripada produsen angklung.

Kompas Cetak
2

angklung


Angklung. Alat musik ini terdiri dari tiga tabung bambu yang digantung berderet. Cara memainkannya dengan digoyang atau diguncang-guncangkan. Ketiga tabung tadi ditata dengan perbedaan nada satu oktaf, atau ada yang ditata dengan nada do-mi-sol.

Jenis bambu yang lazim digunakan untuk alat musik ini adalah bambu berwarna hitam dan bambu berwarna putih. Ukuran tabung bambu angklung berbeda-beda. Ukurannya menentukan bunyi tinggi-rendah nada. Tidak diketahui secara pasti kapan angklung ini tercipta.


Angklung gubrag yang berasal dari Jasinga, Bogor diyakini sebagai jenis angklung yang paling tua, yang hidup sejak 400 tahun lampau. Jenis Angklung yang ada di Jawa Barat, yaitu angklung baduy, angklung dogdog lojor, angklung gubrak, angklung badeng, angklung buncis, dan angklung bungko, dan angklung soetigna. 


Selain di daerah Jawa Barat, alat musik angklung (atau mirip angklung) juga dikenal di daerah lain, seperti di Bali dan Banyuwangi. Dalam mitologi Bali, angklung berasal dari kata “angk” yang artinya angka atau nada dan “lung” yang artinya hilang. 


Di Bali cara memainkan angklung berbeda. Tabung-tabung bambu digantung dengan posisi miring dan dipukul dengan tongkat. Sedangkan di Banyuwangi terkenal angklung carok. Di daerah ini, angklung dimainkan dengan nada yang sambung menyambung. 


Di Jawa Barat, syahdan angklung merupakan alat musik pengiring lagu-lagu persembahan kepada Nyai Sri Pohaci. Nyai Sri Pohaci adalah sosok penjelmaan Dewi Sri pemberi kesuburan.


Masyarakat Sunda menggoyang-goyangkan tabung bambu, yang dikemudian hari dikenal sebagai alat musik anglung, untuk memikat sang dewi agar turun ke bumi guna memberi berkah kesuburan bagi tanaman padi mereka.


Pada saat panen alat musik dari tabung bambu ini juga dimainkan. Dari sini angklung mulai menyebar di masyarakat. Tercatat pada 1908 ada sebuah misi kebudayaan Indonesia ke Thailand. Misi ini ditandai dengan penyerahan angklung. Saat itu angklung sempat digemari penduduk di sana dan menyebar di negara itu. 


Pada masa kolonial Belanda, angklung dimanfaatkan sebagai alat pemacu semangat perjuangan rakyat melawan penjajah. Oleh karena itu pada masa ini permainan angklung dilarang pemerintah kolonial. Akibatnya, angklung menjadi kurang populer di masyarakat dan hanya dimainkan oleh anak-anak dan para pengemis. Angklung diatonis dikreasi oleh Daeng Soetigna. Angklung diatonis merupakan cikal-bakal angklung modern yang terdiri dari 8 tangga nada (do-re-mi-fa-so-la-si-do). Angklung yang dikreasi Daeng adalah jenis angklung buncis. Angklung ini ukurannya kecil. Daeng Soetigna lahir di Garut pada 1908. Cerita berawal ketika dua orang pengemis datang ke rumah Daeng di Kuningan.


Dua orang pengemis itu memainkan angklung dengan nada pentatonis. Permainan angklung mereka membuat Daeng tergetar. Lalu ia membeli dua angklung yang membuat hatinya bergetar itu. Setelah angklung tersebut berada di tangannya, ia berpikir untuk menggubah angklung pentatonis menjadi diatonis.


Namun masalahnya, Daeng tidak dapat membuat angklung. Karena itu ia kemudian meminta bantuan seorang pakar angklung bernama Djaya. Setelah belajar membuat angklung, singkat cerita, ia paham cara teknik membuat angklung. Ia kemudian bereksperimen untuk membuat angklung diatonis. Pada 1938, cita-cita Daeng untuk membuat kreasi angklung diatonis berhasil ia wujudkan. 


Setelah keberhasilan eksperimennya itu, Daeng yang menetap di Kuningan dan bekerja sebagai pengajar di sekolah setingkat SMP di sana memperkenalkan angklung hasil kreasinya ke anak-anak pramuka asuhannya. Pada mulanya permainan angklung masih ditentang untuk diajarkan di sekolah, tetapi akhirnya dapat diterima dan lalu bisa diajarkan di sekolah. Setelah Daeng pindah ke Bandung, permainan angklung hasil kreasinya makin dikenal oleh masyarakat luas.


Pada 11 November 1946, Presiden Soekarno meminta Daeng untuk memainkan angklung diatonisnya di hadapan para peserta perundingan Linggajati. Pada acara Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Gedung Merdeka Bandung, presiden Soekarno juga meminta Daeng mengadakan konser angklung hasil kreasinya untuk menjamu tamu-tamu negara. Dari sini “mata dunia” mulai melihat keindahan permainan musik angklung kreasi Daeng.


Keindahan bunyi nadanya membuat mereka berniat belajar memainkan angklung. Selain itu, Daeng juga berhasil memainkan lagu klasik An der schonen blauen Donau, karya Johan Strauss, dengan angklung diatonisnya (Ensiklopedia Indonesia). Angklung diatonis kreasi Daeng dapat dipadukan dengan alat-alat musik modern Barat. 


Daeng Soetigna meninggal pada 8 April 1984. Sepeninggalnya, angklung diatonis hasil kreasi Daeng berkembang dan makin dikenal masyarakat dunia. Masyarakat dari segala penjuru dunia, terutama orang-orang Eropa, tertarik untuk mengenal lebih jauh alat musik ini. Pengenalan angklung ke dunia internasional dilakukan melalui konser, festival budaya, dan misi kebudayaan.


Pada 9 November 2007, atas jasa-jasanya, Daeng Soetigna dianugerahi Bintang Budaya Parama Dharma dari Pemerintah RI. Penghargaan ini merupakan penghargaan kedua dari pemerintah, setelah pada 1968 Daeng Soetigna juga menerima anugerah Satya Lancana Kebudayaan. Produk hasil budaya bangsa kita ini harus kita jaga dan lestarikan bersama-sama. (*)


FANDY HUTARI, Penulis Lepas. Menulis buku Sandiwara dan Perang; Politisasi Terhadap Aktifitas Sandiwara Modern Masa Jepang
0

angklung



BAGI penduduk Jawa Barat, alat musik angklung tentunya bukan hal yang asing untuk didengar. Bahkan, keberadaannya sudah diakui dan terdaftar di United Nation Educational Scientific Cultural Organita-tion (UNESCO) sebagai salah satu kekayaan budaya dunia sejak Oktober 2009.

Namun, apakah Anda sudah pernah memainkan alat musik angklung? Atau jangan-jangan anda tidak pernah mendengarkan paduan suara angklung secara langsung? Fenomena inilah yang menarik minat siswa SMAN 5 Bandung Aria Dhanang Dewangga (16) untuk "mengawinkan" keindahan musik angklung dengan teknologi komputer. Menurut dia, angklung merupakan musik yang populer di Indonesia tetapi jarang dimainkan. Hal itu karena angklung dibuat oleh tangan sehingga produksinya terbatas. Apalagi seniman pembuat alat musik tersebut juga jumlahnya kurang banyak.


Hal ini berbeda dengan alat musik modern yang tersebar di seluruh dunia. Sebut saja gitar atau piano, dua alat musik tersebut sudah lazim dimainkan oleh masyarakat. Sebagai penggemar dan anggota tim angklung, Aria juga tergerak untuk mempromosikan angklung ke seluruh dunia. Siswa kelas XIIini kemudian merancang program sehingga penggunanya bisa memainkan angklung dengan komputer.


Program ini terdapat dua tipe, yaitu single mode dan assembly mode. Tipe assembly mode memungkinkan satu pengguna komputer untuk memainkan seluruh tangga nada seperti orang bermain piano. Namun, single mode memungkinkan pengguna komputer untuk bermain angklung dengan satu tangga nada untuk kemudian dipadukan dengan komputer lainnya dan dipimpin oleh conductor. "Ini seperti layaknya kita bermain angklung dengan alat musik asli di mana memain-kannya harus memadukan nada dengan rekan satu tim," ujar remaja yang akrab dengan kompu- ter sejak usia satu tahun ini.


Karya penemuannya inilah yang dia presentasikan di depan para juri International Conference of Young Scientist (ICYS) ke-17 di Denpasar Bali dan berhasil meny-bet medali emas. Dengan berpakaian serbahitam dan ikat kepala khas pemain angklung dan ca-lung, Aria mempresentasikan software buatannya sekaligus memperkenalkan alat musik tersebut kepada juri serta peserta dari luar negeri. Hasilnya presentasi tersebut mendapatkan pujian dari tiga juri asing karena dianggap menarik.


http://bataviase.co.id











0


angklung

PT Pazia Pillar Mercycom, distributor produk-produk IT, meluncurkan aplikasi angklung digital, Pazia Angklung, untuk gadget Android, Kamis (1/6/2012). Peluncuran dilakukan di atas kapal pesiar Voyager of the Seas yang sedang melintasi Selat Malaka dari Thailand menuju Singapura.

Menariknya, peluncuran aplikasi tersebut dilakukan setelah pemecahan rekor dunia pagelaran angklung dengan peserta terbanyak di atas kapal pesiar yang sedang berlayar. Pemecahan rekor sekaligus peluncuran aplikasi angklung dilakukan di auditorium dalam kapal pesiar, La Scala.

"Aplikasi ini sebetulnya sudah tersedia di Google Play Store sejak April," kata Presiden Direktur PT Pazia Pillar Mercycom, Yulisiane Sulistiyawati, yang ditemui usai peluncuran.

Aplikasi yang dikembangkan oleh tim di balik toko daring Pazia Store memuat sejarah mengenai angklung. Namun yang paling utama adalah pengguna bisa memainkan angklung secara virtual.

Pengguna bisa memainkan angklung satu nada dengan cara menyentuh layar atau menggoyangkan perangkat mereka. Ada pula pilihan untuk memainkan angklung dalam tangga nada yang lengkap sehingga pengguna diberi kebebasan untuk memainkannya sendiri atau bersama-sama. Yulisiane mengungkapkan bahwa versi iOS tengah dipersiapkan dan akan dirilis dalam waktu dekat.

Disinggung mengenai langkah Pazia yang bergeser dari distributor produk IT menjadi pengembang aplikasi, Yulisiane beralasan bahwa aplikasi angklung digital semata-mata hanya tanggung jawab sosial perusahaannya saja. Tidak ada maksud untuk menjadikan aplikasi tersebut sebagai sumber pemasukan atau semacamnya. (KOMPAS.com)


0

Angklung

APAKAH ALAT MUSIK ANGKLUNG ITU?


Angklung adalah alat musik terbuat dari bambu, dimainkan dengan cara digetarkan dan satu alat menghasilkan satu nada. Termasuk dalam kategori alat musik idiophone


APAKAH ANGKLUNG PENTATONIS?

Angklung pentatonis adalah angklung dari masyarakat Sunda (dan dari daerah lainnya di Indonesia), dan dimainkan dengan lima nada tradisional, sehingga disebut pentatonis (5 nada), antara lain: pelog, salendro, madenda.







APAKAH ANGKLUNG PADAENG?

Bapak Angklung Diatonis Daeng Sutigna, pada tahun 1937 mulai membuat angklung yang bertangganada diatonis (tepatnya diatonis kromatis), sehingga jumlah nadanya menjadi 7 buah seperti halnya alat musik dunia lainnya (misal piano, organ, biola)

Video: angklung diatonis 



Jenis alat musik angklung yang akan banyak dibahas di situs ini adalah angklung diatonis (disebut juga angklung padaeng). Untuk selanjutnya kata angklung di sini bermakna angklung diatonis (= angklung padaeng)

Angklung Padaeng menjadi angklung bertangga nada diatonik kromatis, seperti halnya alat musik standard lainnya di dunia. 

Beliau membuat angklung diatonis ini dalam dua jenis, yaitu angklung melodi (satu angklung mewakili satu nada) dan angklung accompagnement (satu angklung mewakili satu akord). Berikut disampaikan secara ringkas cara memainkan alat musik angklung agar dihasilkan permainan yang sempurna.


0

Pentingnya penguasaan lagu bagi pelatih


Latihan yang efisien
Latihan yang efektif
Wibawa pelatih

Pentingnya penguasaan lagu bagi pemain


Mempermudah menghapal lagu
Mengasah musical skill
Aspek Musikalitas Dalam Membaca Lagu


Ketukan
Menyanyi
Menghayati
Kontak batin pelatih pemain

Ketukan


Menghayati Lagu


Syair
Tempo
Sejarah lagu
Komunikasi dengan pencipta atau pengaransemen lagu

Notasi dalam partitur untuk angklung


Not Balok
Not angka

Aspek-aspek lagu yang harus dikuasai pelatih


Tempo
Dinamika
Ketukan

Mengenal Akor dan harmoni dalam lagu


Akor
Harmoni

1. Dasar-dasar teori musik dan symbol-simbol


2. Staff (notasi balok) ≈ suara n (‘picth’) (notasi angka)


3. Nada dasar (do=c, do=g, ..)


4. Note Values


notasi balok; not penuh, not setengah, not seperempat dst
notasi angka; (diwakili oleh 1 titik per ketuk)

5. Bar, Garis bar, double bar


Time signature (4/4, 2/4, ¾ dst..)

6. Tanda Berhenti


notasi balok; (whole, half, dan quarter rest)
notasi angka; (diwakili oleh 1 angka 0 per ketuk)

7. Tanda ulang


Tanda dua titik sebelum double bar
Dua titik antara dua double bar
First and second ending

8. Tanda Dinamika


pp, p , mp , mf , f , ff (very soft-very loud)
Cressendo (meninggi/ gradually laouder)
Decressendo (merendah/ gradually softer)

9. Tempo (grade of speed)


largo, adagio, andante, moderato, allegro, vivace (very slow-very fast)
Ritardando (gradually slower)
Accelerato (gradually faster)

10. Artikulasi


Staccato ≈ cetok angklung
Aksen (accent) ≈ suara meninggi dengan tekanan
Sforzando ≈ sudden, strong accent
Tenuto ≈ hold for full value
Fermata ≈ hold longer than normal value

11. D.C, D.S., Coda, Fine


D.C. Da Capo; ulang dari awal
D.S. Dal Segno; ulang dari tanda
Coda; an added ending
Fine; the end
Kombinasi
D.C. al fine
D.S. al fine
D.C. al coda
D.S. al coda

12. Enharmonic


Sharp (#), nada dicoret dari kiri bawah ke kanan atas
Flat ( ), nada dicoret dari kanan bawah ke kiri atas


YUSRANI SALMAN AWI 
1
Previous PostOlder Posts Home